Erleys chapter 1 #Bangun di dunia lain
"...gelap...gelap, kenapa apa yg terjdi padaku? Apa ini sudah berakhir? Benarkah?...Hidupku berakhir sia-sia, begitu saja...
....ah, ada cahaya, apa itu? Apa aku harus kesana? Baiklah sepertinya tak ada pilihan lain?"
Tubuhku melayang menyusuri kegelapan ini, aku tak tau pasti tapi seperinya aku telah mati.
Di kehidupan sebelumnya aku menjalani hidup dengan sederhana biasa saja, bahkan aku merasa tak berguna. Aku bekerja setiap hari untuk menghidupi diri sendiri, aku anak ketiga dri 5 bersaudara, kakak-kakaku sukses menjadi orang terpandang, adik-adiku selalu berprestasi. Tapi hanya aku yg tak berguna, kegagalan selalu menghampiriku, bahkan orang tuaku seperti sudah tak perduli. Sepertinya aku iri terhadap saudara-saudaraku. Aku memang iri. Dan kenyataan bahwa aku hanya anak angkat mereka. Aku hanya, ah wajar sajakah?.
Berbeda dengan saudaraku aku di sekolahkan di yayasan Bantuan Sosial, saat Setelah lulus SMP mereka menyuruhku untuk berhenti. Tapi aku tidak mau dan akhirnya aku harus bekerja untuk membiayai sekolahku.
Akupun pindah, ke rumah sewa saat aku mendapatkan pekerjaan. Harga sewanya lebih dari setengah gajiku, akibatnya aku harus menghemat, makanpun hanya sekali sehari.
Mungkin ini pantas di sebut budak perusahaan.
Apa yg membuatku mati? Tidak. Aku tidak bunuh diri, aku tidak sebodoh itu. Saat itu aku berjalan gontai karena rasa lelah dan kantuk sehabis pulang kerja larut malam, aku tak melihat lampu merah yg masih menyala. Tanpa sadar aku menerobosnya, ada truk dri arah kananku tak sempat mengerem dan langsuh menabraku, kejadianya begitu cepat. Tarakhir yg aku lihat truk itu tak berhenti, terus jalan meninggalkanku. Dan seperti inilah akhirnya, kini aku yakin aku telah mati.
***
Panas, apa yg ini? Kulitku merasakan panas. Perlahan aku membuka mataku, apa itu? Matahari? Silau sekali. Aku bangun dan terduduk seperti orang dungu, Apa?.
Aku terkejut, aku melihat kesekeliling dan yg terlihat adalah padang tandus. Kemudian aku memeriksa apa yg aku pakai, aku hanya memakai selembar kain putih yg menutupi tubuhku.
Dimana ini? Akhiratkah? Aku berjalan perlahan kedepan tanpa tau arah yg di tuju, aku terus berjalan.
Entah berapa lama aku berjalan tubuhku mulai kelelahan, karena panas terik mata hari dan juga tanpa alas kaki, tapi tak ada apapun yg telihat, tunggu dulu. Itu! Itu seperti sebuah kota, ya entah apapun itu aku harus kesana.
***
Aku telah sampai di dekatnya, tempat ini adalah sebuah wilayah pamukiman besar yg dikelilingi pagar dri tembok yg tinggi, aku berjalan menuju pintu masuk, ada beberapa orang yg keluar masuk dengan menggunakan gerobak yg di tarik oleh kuda.
Tubuhku sudah sangat kelelahan, aku harap disana aku mendapat makan atau minum. Aku trus berjalan mendekati pintu masuk.
Di dekat pintu masuk itu beberapa orang tengah berjaga dgn pakaian lengkap seperti prajurit bersenjata dan ketika aku sampai.
"Hei, mau kemana kau..?"
Salah satu penjaga yg berkepala botak bicara padaku, tapi aku tak mengerti apa yg dia katakan.
"T..to..tolong biarkan aku masuk!"
Aku memohon kepadanya, tapi ia bereaksi seperti tak mengeri apa yg aku katakan.
"Bicara apa dia?"
Si botak bertanya pada si kribo temanya.
"Aku tidak tau,.. Hei kau untuk apa kau kemari? Apa tujuanmu?"
Si kribo yg berbicara, tapi aku tetap tidak mengerti apa yg mereka katakan.
"T..tolong.."
Aku berusaha bicara, tapi tubuhku sudah mencapai batas, aku jatuh berlutut di tanah kemudian tersungkur.
"Ada apa dengan orang ini.. Hei kau jangan mati di sini merepotkan tau.."
Si botak bicara, itu kalimat terakhir yg aku dengar sebelum tak sadarkan diri.
"Bagaimana ini? Kelihatanya dia pingsan." (si botak)
"Entahlah apa kita bawa masuk?" (si kribo)
"Tapi dia terlihat mencurigakan, akan merepotkan jika ketua tahu kita membawa masuk orang aneh ini, lihatlah rambutnya hitam, kulitnya coklat. Jangan-jangan dia adalah salah satu dari jenis demi human yg berbahaya." (si botak)
"Benar juga kau, jadi bagaimana?" (si kribo)
"Kita buang saja, agak jauh dari sini. Biarkan dia mati sendiri.." (si botak)
"Baiklah." (si kribo)
Tubuhku di angkat, dengan jijik mereka berdua menggotong tubuhku, tapi aku masih tak sadarkan diri dan tidak tau apa yg terjadi.
Baru beberpa langkah, mereka berdusla menggotong tubuhku dengan tandu, sesorang yg menaiki gerobak yg di tarik oleh kuda menghentikan langkah mereka.
"Hei apa yg kau bawa itu?" tanya si kusir berperawakan kurus, dengan kumis seperti garis yg meruncing di ujung. Pakaianya serba hitam, dan memakai tudung lebar yg terbuat anyaman bambu.
"Entahlah tadi dia pingsan di dekan pintu masuk, kami curiga dia salah satu demi human yg berbahaya. Kami berencana membuangnya."
"Tunggu dulu.!"
Si kusir turun dari gerobaknya, ia mendekat ke tubuhku. Dia seperti menganalisa.
"Rambut hitam, kulit coklat, mata hitam..hmm.."
Si kusir berfikir sejenak lalu tersenyum menyeringai.
"Hei kalian berdua letakan dia di atas gerobaku!" ser si kusir.
"Tapi diakan." (si kribo)
Kata-katanya terhenti melih sebuah koin emas berukiran bunga mawar yg di keluarkan oleh si kusir dari kantungnya.
"Masing-masing. Satu untuk kalian, bagaimana?" tawar si kusir menyeringai.
"B..baiklah."
Si botak menjawab setelah saling melirik dengan si kribo. Tubuhku di letak di atas gerobak tak batap, lalu si kusir memberikan koin emas itu pada mereka berdua masing-masing satu buah.
"Baiklah sekarang buka pintunya aku mau masuk."
Seru si kusir dri atas gerobak.
"Baik!"
Si botak dan si kribo menjawab serentak.
"Aku sedang beruntung, menemukan barang bagus dengan mudah, dengan ini aku bisa kaya dan membuka tokoku sendiri....kihkihkihk."
Si kusir tertawa menyeringai setelah mengatakan sesuatu kumisnya yg seperti garis meruncing terangkat, tapi aku tak perduli. Dia memberiku makanan yg tak enak bahkan berbau dan juga air, rasa laparku tak mampu menolak. Walaupun sebuah kalung dari besi yg terikat dengan rantai mengikat leherku aku tak peduli, rasa lapar membutakan segalanya.
"Hei sudah-sudah, aku harus berangkat sekarang. Aku harus bertemu si Gustaf gendut itu, kenapa orang seperti dia yg menjadi wali kota. Aku sungguh muak denganya tapi mau bagaimana lagi, aku membutuhkan orang bodoh seperti dia." Si kusir meracau tak Jelas.
Dia mengambil makananku lalu membuangnya, padahal aku masih lapar. Dia mengikatkan rantai besi yg mengikat leherku di belakang gerobaknya, sementara dia menaiki gerobaknya aku berjalan di belakang tanpa alas kaki dan di tarik secara paksa.
Komentar
Posting Komentar